Mengunjungi Dataran Tinggi Dieng, Negeri Para Dewa

Terletak di ketinggian 2093 mdpl, Dieng membentang dalam 2 daerah kabupaten, ialah Wonosobo serta Banjarnegara.

Dalam bahasa Sansekerta, nama Dieng terdiri dari 2 kata. ‘Di’ yang berarti tempat yang tinggi serta ‘hyang’ yang berarti kahyangan. Bila kedua kata digabungkan, Dieng berarti wilayah pegunungan tempat di mana para dewa serta dewi bersemayam.

Tidak susah menjangkau negara para dewa serta dewi ini. Terdapat 2 opsi moda transportasi darat yang dapat digunakan, kalian bisa memilih bis atau kereta.

Bila naik bis, turun di Halte Mandala( orang Wonosobo menyebutnya Mendolo), dilanjutkan dengan bis kecil ke Dieng. Apabila naik kereta, dapat turun di Stasiun Purwokerto kemudian dilanjutkan naik kendaraan sewaan ke Dien.

Ekspedisi menuju Dieng dipastikan tidak mungkin membosankan. Jalur berkelok- kelok dengan panorama alam bukit serta gunung nanhijau dipastikan menyegarkan mata. Sedikit demi sedikit hawa dingin bakal menyergap. Hingga persiapan baju hangat jelas dibutuhkan.

Terdapat banyak opsi tempat penginapan di Dieng. Bila tidak musim libur panjang, mencari satu hari saat sebelum ataupun dikala telah berada di tempat tidak terlalu susah.

Opsi jatuh ke Losmen Bu Djono. Tidak hanya lokasinya yang strategis, terletak di pojok pertigaan arah Dieng serta Wonosobo, losmen ini seolah menyediakan segala hal yang dibutuhkan orang dikala berada di Dieng.

Mulai dari menu santapan yang hangat, pemandu wisata buat turis dalam negeri ataupun mancanegara hingga sewa kendaraan.

Berikut ini rangkuman ekspedisi kami dikala melancong dalam satu hari di Dataran Tinggi Dieng:

04. 30- Mengejar Matahari di Puncak Sikunir
Golden Sunrise Dari Bukit Sikunir

Bersiap menembus hawa dingin desa paling tinggi di Pulau Jawa, Desa Sembungan untuk mengejar matahari terbit di Bukit Sikunir.

Menjangkau bukit ini lumayan dekat dengan berkendara 10- 15 menit dari penginapan, setelah itu dilanjutkan dengan mendaki bukit sepanjang 30 menit ataupun lebih kilat bergantung keahlian.

Jam 4 pagi dirasa cocok buat waktu keberangkatan, supaya mendaki dapat lebih santai, serta dapat memilah tempat terbaik buat menikmati matahari terbit bercorak keemasan( golden sunrise).

Wisatawan yang masuk ke kawasan Bukit Sikunir harus membayar tiket masuk dengan harga Rp 10. 000 per orang. Buat parkir, dikenakan tarif Rp5. 000 per unit kendaraan.

Jalan mengarah puncak juga tidak susah dilewati. Tangga ada berikut dengan tali ataupun kayu buat berpegangan. Sambil menapaki tangga, sambil berdoa supaya alam merestui kemauan buat melihat matahari terbit. Alasannya, tidak sering matahari tertutup awan.

Tidak disangka, alam mengabulkan doa wisatawan hari itu. Langit terang langsung membuat wisatawan mempercepat langkah hingga ke puncak bukit.

Menuju jam 6 pagi, sedikit demi sedikit cahaya matahari mulai terlihat. Corak langit berganti lama- lama dengan gradasi biru, oranye, merah serta kuning. Sangat luar biasa.

Menjelang jam 9 pagi, matahari mulai besar serta cuaca mulai terik. Wisatawan yang telah puas difoto berangsur turun bukit.

Hingga di dasar bukit, wisatawan langsung disambut oleh tempat makan yang menjual bermacam berbagai menu khas Dieng.

Kurang rasaya bila mendatangi Sikunir tanpa menyantap Rendang Kentang. Dieng memanglah jadi penghasil kentang dengan mutu baik.

Rendang Kentang Khas Dieng

Kentang yang terbuat rendang merupakan kentang berdimensi kecil. Masyarakat setempat menyebutnya rindil.

Kentang mini itu dimasak dengan bawang merah, bawang putih, gula merah, garam serta sedikit cabe. Jangan bayangkan rasanya yang pedas semacam rendang pada biasanya. Rasanya lebih dominan manis.

Biayanya juga terjangkau, mulai dari Rp5. 000 sampai Rp15. 000.

08. 30- Kisah Gatotkaca di Kawah Candradimuka
Kawah Candradmuka

Alkisah, Kurawa mendengar ramalan Durna tentang generasi Pandawa yang hendak menghancurkan keluarga Kurawa. Kurawa pun curiga pada Gatotkaca yang merupakan generasi Werkudara. Mereka akhirnya membuang Gatotkaca ke dalam Kawah Candradimuka.

Semar yang mengetahui perihal ini, kemudian mengambil air dari kahyangan. Air yang dikenal dengan nama adem semar itu diminumkan pada Gatotkaca untuk mengobati cedera dalamnya. Sebaliknya, untuk cedera luar, Semar mengombinasikan air kahyangan dengan air kawah, sehingga jadi hangat kemudian dibasuhkan ke tubuh Gatotkaca.

Setelah sembuh, Gatotkaca langsung melompat kedalam Sumur Jalatunda untuk menemui Antasena, saudaranya. Mulai dari cerita ini, bibit perang Baratayudha mulai timbul.

Sumber Mata Air Adem Semar

Sepenggal cerita tentang Kawah Candradimuka ini dikemukakan oleh Yahya, si penjaga kawasan kawah. Dia juga menunjukan kawah tempat Gatotkaca diceburkan, sumber air hangat buat mengobati cedera luarnya serta Adem Semar, air kahyangan yang digunakan Semar buat membantu Gatotkaca.

Wisatawan bisa merasakan kesegaran adem semar. Air itu bisa langsung diminum serta tidak kalah fresh dengan air minum dalam kemasan. Sebaliknya, air yang hangat bisa digunakan buat mengobati penyakit kulit.

” Bapak aku pernah menceritakan, Soeharto sempat bertapa di mari( dekat kawah), setahun sehabis jadi presiden. Dia bertapa sepanjang 7 hari 7 malam,” kata Yahya pada kami.

Yahya mengeluhkan sedikitnya wisatawan di Kawah Candradimuka, padahal disana terdapat fenomena alam yang unik; kawah dengan temperatur mendekati 100 derajat Celsius serta berdampingan dengan sumber air fresh yang langsung bisa diminum.

Dia menyebut, akses jadi hambatan. Jalur berbatu- batu memanglah susah dilalui dengan kendaraan.

Wisatawan bisa mendatangi kawah yang berlokasi di Desa Pekasiran, Kecamatan Batur, Banjarnegara ini dengan sepeda motor ataupun mobil.

10. 30- Menengok ‘Ranu Kumbolo’ Dieng
Telaga Dringo

Dari Kawah Candradimuka, turis bisa melanjutkan ekspedisi ke Telaga Dringo. Sekitar 15 menit berkendara, kemudian berjalan menapaki bukit kecil, telaga nampak bercorak biru serta dikelilingi perbukitan.

Di satu sisi telaga, ada gardu pandang. Kondisinya tidak begitu terpelihara, sehingga turis butuh berjaga- jaga dikala naik.

Di suatu bukit kecil, terlihat tenda terpasang. 3 sekawan asal Pekalongan sedang bermalam disana. Mereka menceritakan momen matahari terbit tidak dapat optimal sebab langit berawan.

Mereka mengaku telah 3 kali mendatangi Telaga Dringo dengan mengendarai sepeda motor dari Pekalongan. Butuh 3 jam untuk sampai kesini.

“ Tidak hanya matahari terbit, dari sini pun dapat melihat galaksi bima sakti. Tempat ini dapat dibilang fotokopinya Ranu Kumbolo,”

” Sesungguhnya objek wisata ini sangat potensial, hanya jalannya, Masya Allah,” ucap Sabil diiringi tawa kedua kawannya.

Mereka berharap infrastruktur jalur mengarah Telaga Dringo dapat diperbaiki, ditambah rambu lalu lintas yang bisa mempermudah wisatawan.

12. 00- Melempar Batu ke Sumur Jalatunda
Sumur Jalatunda

Rangkaian ekspedisi kami berlanjut ke Sumur Jalatunda. Ekspedisi ditempuh kurang dari 10 menit.

Kendati diucap sumur, tetapi dimensi Sumur Jalatunda melebihi dimensi sumur- sumur pada umumnya, yakni berdiameter 100 m. Menurut penjaga sumur, Hisbulloh, dari riset ditemukan bahwa sumur merupakan sisa letusan gunung berapi.

Wisatawan mayoritas menghadiri sumur sebab yakin mitosnya. Barangsiapa yang melontarkan batu sampai menyentuh seberang sumur, maka keinginannya akan terkabul.

” Sumur dipagari jala- jala gaib buat menunda kemauan manusia. Banyak orang kesini melontarkan batu supaya cita- citanya tidak tertunda. Makanya diucap Jalatunda,” kata Hisbulloh.

Bersumber pada cerita dari nenek moyang, sumur ini pula terdapat hubungannya dengan penyebaran agama Islam di Dieng.

Dulu, murid Sunan Gunung Jati kesusahan menyebarkan ajaran Islam di Dieng sebab kuatnya keyakinan warga pada roh- roh nenek moyang( animisme). Sunan Gunung Jati kemudan berpesan pada muridnya agar mengambil batu dari Kali Serayu kemudian dilempar ke Sumur Jalatunda.

Bila sukses melontarkan batu, maka mereka dapat menyebarkan ajaran Islam di Dieng. Salah satu murid Sunan Gunung Jati sukses melontarkan batu dan kemudian agama Islam juga tersebar.

Tiap hari, lanjut Hisbulloh, terdapat dekat 200 turis yang berkunjung. Untuk bisa masuk kesana, pengunjung harus membeli tiket dengan harga Rp5. 000 per orang.

13. 30- Hujan Membasahi Arjuna

Nampaknya cuaca mendung, tetapi ekspedisi kami masih berlanjut ke komplek Candi Arjuna. Sebelumya, ada baiknya mengintip Museum Kailasa atau semata- mata menikmati panorama alam Dataran Besar Dieng dari gazebo yang terletak di atas museum.

Gazebo Museum Kailasa

Lapar? Tidak usah takut. Di sepanjang jalur mengarah pintu masuk candi, ada warung- warung yang menjajakan kentang goreng. Tidak semacam kafe di Jakarta, kentang goreng disini berdimensi cukup besar.

Kentang bisa diberi perasa sesuai kemauan, mulai dari rasa jagung manis, barbekyu, pedas hingga sapi panggang.

Kentang Goreng Khas Dieng

Sambil menyantap kentang goreng, hujan turun. Bisa jadi ini bukan hari keberuntungan. Tetapi masih ada harapan. Ternyata, itu jadi perihal biasa bila mendatangi candi dikala siang hari. Sesekali, turis wajib mencoba mendatangi candi dikala malam.

20. 00- Pendar Sinar di Balik Arjuna

Kami berencana buat menghabiskan malam di komplek Candi Arjuna. Tidak cuma satu, tetapi terdapat banyak candi yang dapat didatangi, ialah Candi Semar, Candi Srikandi, Candi Puntadewa serta Candi Sembadra.

Kemudian apa yang menarik di lingkungan candi dikala malam?

Jangan dibayangkan wisata ini merupakan wisata horor, sebab lampu yang menyoroti bagian belakang candi malah memunculkan kesan dramatis. Turis yang menggemari fotografi tentu betah berkunjung kesini.

Candi Arjuna Di Malam Hari

Kian lama hawa terus menjadi dingin. Temperatur hawa malam di Dieng bisa mencapai 0 derajat Celsius. Menjelang jam 10 malam, kami pun memutuskan kembal ke peraduan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *