Rekayasa Genetika

 

Sejarahnya:

Rekayasa genetika memang sudah berperan lama di peradaban manusia. Sebut saja perkawinan silang pada hewan atau tanaman yang menghasilkan anjing bull-pug atau semangka tanpa biji.

Dimulai pada tahun 1960-an ketika DNA pertama kali ditemukan. Para ilmuwan mulai merekayasa gen tumbuhan secara abstrak dengan bantuan sinar radiasi.

Pada tahun 1970-an rekayasa genetik dilakukan dengan menginjeksi DNA ke bakteri, hewan dan tumbuhan untuk alasan penelitian, medis, agrikultur hingga sekedar kesenangan. Tahun 1974 mulai populer percobaan menggunakan hewan tikus sebagai media penelitian rekayasa genetika.

Dekade 1980-an rekayasa genetika merambah dunia komersil. Modifikasi pada DNA mikroba dipatenkan untuk menyerap minyak mentah.

Dekade 1990-an The Flavr Savr Tomato, modifikasi pertama pada makanan mulai dipasarkan. Sebut lagi Babi ber-otot, Salmon dengan pertumbuhan super cepat, Ayam tak berbulu, Katak transparan, hingga Bayi manusia dengan gen bawaan 3 orang tua pun lahir.

Hari ini kita juga menikmati hasil peran rekayasa genetika di bidang medis seperti teknik menghilangkan bekas luka, hingga teknik pembuatan insulin maupun vaksin.

Semua proses rekayasa genetika konvensional ini membutuhkan biaya yang mahal, proses yang rumit, dan waktu yang lama. Namun bayangkan jika biaya rekayasa genetika bisa dipangkas hingga 99%, dilakukan di laboratorium dan hanya membutuhkan waktu beberapa minggu saja. Clustered Regularly Interspaced Short Palindromic Repeats atau disingkat CRISPR merupakan teknik rekayasa genetika modern dengan keunggulan tersebut. CRISPR juga dipercaya dapat mengatasi semua jenis penyakit, awet muda, hingga merekayasa bayi manusia. Tidak heran CRISPR menjadi kontroversi bagi berbagai kalangan.

Sistemnya:

Perang antara Bakteri dan Virus menjadi dasar penelitian CRISPR oleh para ilmuwan. Virus yang masuk dan merusak DNA Bakteri dapat menyebabkan kematian bagi Bakteri itu sendiri. Bakteri yang berhasil bertahan hidup mempelajari dan menyimpan informasi DNA Virus yang ada pada gen-nya sendiri dan menjadi cikal bakal Anti-Virus. Salinan informasi inilah yang disebut CRISPR. CRISPR disimpan secara baik sampai waktunya Virus menyerang kembali. Saat diserang, RNA Bakteri menyalin informasi dari CRISPR dan membentuk protein CAS-9. Hebatnya, Protein CAS-9 akan 100% mencocokkan informasi yang ada dengan informasi yang dibawa oleh DNA Virus. Setelah 100% cocok, Protein CAS-9 akan langsung memotong DNA Virus membuatnya tidak berfungsi dan Bakteri selamat dari serangan Virus.

Revolusi dimulai saat sistem CRISPR dapat diprogram oleh para ilmuwan. Mereka dapat menyampaikan salinan DNA untuk dimodifikasi dan diaplikasikan pada sel yang masih hidup. Bayangkan jika teknik konvensional rekayasa genetika seperti sebuah peta, CRISPR adalah sistem GPS-nya. Disamping tingkat presisi yang dipercaya lebih baik dan biaya yang lebih murah, CRISPR mampu diterapkan pada sel yang masih hidup, sembari mempelajari dan menentukan informasi pada DNA tertentu. CRISPR juga dapat bekerja pada semua sel mikroorganisme, tumbuhan, hewan, dan manusia dengan tantangannya masing-masing.

Perkembangan revolusi CRISPR masih sangat panjang. Anggap saja CRISPR yang yang ada saat ini adalah versi 1.0 , maka diyakini akan ada versi 2.0, 3.0, dst, dengan segala penyempurnaannya.

Positifnya:

Tahun 2016, para ilmuwan melakukan percobaan pada seekor tikus yang 99% sel tubuhnya terinfeksi virus HIV. Dengan menginjeksi CRISPR pada ekornya, persentasenya berhasil turun menjadi 48%. Para ilmuwan berpendapat, dalam beberapa dekade kedepan semua virus dan retrovirus yang bersembunyi pada DNA manusia bisa dieliminasi.

Sel-sel kanker yang lihai bersembunyi dari sistem imun tubuh juga dapat diatasi. CRISPR dipercaya mampu membuat sistem imun tubuh lebih taktis dalam memburu sel-sel tersebut.

Dan juga penyakit genetis yang sifatnya ringan seperti buta warna, hingga yang mematikan layaknya hemofilia. Lebih dari 3.000 jenis penyakit genetis disebabkan oleh kesalahan satu “huruf” pada informasi di DNA kita. Tentu dengan protein CAS-9 yang sudah dimodifikasi, mereka akan mampu untuk mengoreksi satu “huruf” tersebut.

Semua aplikasi medis diatas punya satu kesamaan. Diaplikasikan pada satu individu dan akan sia-sia pada saat individu tersebut meninggal karena waktunya.

Kontroversinya:

Lalu bagaimana jika metode CRISPR diaplikasikan pada sel reproduksi atau sel embrio yang masih dini? Mungkinkah hasil dari rekayasa tersebut dapat menghasilkan bayi “super”? Yang jelas, modifikasi pada gen manusia akan dibawa oleh keturunan dan generasi-generasi penerusnya. Bisa dibayangkan apabila nantinya peradaban manusia mempunyai 2 golongan gen, “sempurna” dan “tidak sempurna”.

Belum lagi jika kita singgung faktor kematian utama manusia : penuaan. Bagaimana dengan konsep Anti-Aging ? Apakah CRISPR menjadi penentunya?

Faktanya:

Juli 2016, sebuah klinik pengobatan kanker dengan metode CRISPR disetujui beroperasi di Amerika Serikat, dan sebulan setelahnya sejumlah ilmuwan Tiongkok mengumumkan akan memulai metode CRISPR untuk penyembuhan penyakit kanker paru-paru.

Sepanjang 2015–2016 ilmuwan Tiongkok sudah melakukan percobaan pada embrio manusia dan hampir berhasil pada percobaan kedua. Baru-baru ini mereka mengklaim keberhasilannya.

Teori Ilmiah Paling Mengerikan Yang Tidak Diketahui Banyak Orang
Ditag pada:        

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *